Sunday, February 7, 2010

Sisi Lain Wanita Aceh; Madu Dan Pengkhianatan


Ungkapan dari pada crah bah keuh bukah, sudah berlaku dalam kehidupan masyarakat sejak zaman dahulu. Di zaman Kolonial Belanda menjajah Aceh. Seorang wanita rela membongkar tempat persembunyian suaminya, hanya karena suaminya sudah menikah lagi.

Seperti ditulis H C Zentgraaff dalam buku "Atjeh" . Seorang perempuan Aceh dengan penampilan mengesankan mendatangi komandan pasukan Belanda di bivak Samahani, yang kemudian berada di wilayah Aceh Besar. Dia meminta kepada kompeni untuk menyerbu suaminya, seorang gerombolan pejuang Aceh terkenal di kampung Ara Tunoeng, Mukim VII, Baet.

Wanita itu berjanji kepada Belanda akan menunjuk dimana tempat persembunyian suaminya. Hal itu dilakukannya karena menilai suaminya telah berlaku curang dan tidak setia padanya, dengan menikah dengan wanita lain.

Dibawah kawalan pasukan Belanda, wanita itu pun kemudian dibawa ke Indrapuri, untuk menjumpai Overste Van Heutsz. Di sana ia diterima oleh Boon, seorang letnan merangkap pejabat kontrolir. Ia pun dibawa ke kediaman Van Huetsz. Di sana telah berkumpul beberapa opsir tinggi Belanda. "Para opsir tinggi tercengang dengan keagungan wanita itu, yang sadar siapa dia sesunguhnya. Tanpa rasa takut dan rendah diri sedikitpun, pergi menghampiri Overte, dan memberi hormat dengan membungkuk badan sedikit," tulis Zentgraaff.

Sunday, January 17, 2010

Perempuan-perempuan Penjuang Aceh


Ratu Ilah Nur atau Ratu Nurillah Az-Zahir (1380 M)

Di Matangkuli, Kecamatan Minye Tujoh,Aceh Utara, terdapat sebuah makam kuno yang nisannya bertuliskan bahasa Arab dan Jawa Kuno. Di nisan itu, tertoreh nama Ratu Ilah Nur yang meninggal tahun 1365. Siapa Ilah Nur ? Ilah Nur adalah seorang Ratu yang memerintah Kerajaan Pasai, Ratu Nur Ilah merupakan keturunan Sultan Malikuzzahir.

Keterangan itu juga terdapat dalam kitab Negara Kertagama tulisan Mpu Prapanca dan buku Hikayat Raja-Raja Pasai. Tidak banyak keterangan yang didapat oleh peneliti tentang masa pemerintahan Ratu Ilah Nur ini. Perempuan Aceh memang luar biasa. Mereka mampu mensejajarkan diri dengan kaum pria.

Bahkan, dalam peperangan pun, yang biasanya dilakukan kaum pria, diterjuni pula. Mereka menjadi komandan, memimpin ribuan laskar di hutan dan digunung-gunung. Para perempuan Aceh berani meminta cerai dari suaminya – bila suaminya berpaling muka kepada Belanda.

Kaum pria Acehpun bersikap sportif. Mereka dengan lapang hati memberikan sebuah jabatan tertinggi dan menjadi anak buahnya. Diantara mereka menjadi amat dikenal bahkan melegenda, seperti Cut Nayk Dien, Laksamana Kumalahayati, dan sebagainya. Beberapa preode, Kerajaan Aceh Besar yang berdaulat, pernah dipimpin oleh perempuan.

Sisi Romantis Sultan Iskandar Muda

Dalam Hikayat Malem Dagang karya Teungku Chik Pante Geulima, ulama besar Aceh di Meureudu pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (16-07-1636 M) dikisahkan tentang sejarah penyerangan Sultab Iskandar Muda ke Semenanjung Tanah Melayu; Malaysia.

Hikayat ini meriwayatkan kisah perjalanan Iskandar Muda dalam ekspansi tersebut. Bermula dari keberangkatan dari Bandar Aceh ke Asahan lalu ke Johor dan Malaka. Deskripsi perjalanan itu digambarkan dengan apik oleh Tgk Chik Pante Geulima.

Menurut Ali Hasimy dalam buku Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah , terbitan Beuna, Jakarta (1983), hikayat itu mulai ditulis pada hari Senin, 27 Rakjab 1055 Hijriah (1645 M) pada masa Kerajaan Aceh dipimpin Ratu Safiatuddin.

Bait-bait hikayat itu ditulis dengan apik dengan bahasa tamsilan yang dalam. Seperti pada percakapan Raja Raden dengan Raja Siujud:

Siujud bungeh ngon amarah
mata mirah ban aneuk saga
teuma jimariet Raja Siujud
nariet nyang jeuheut lee dibuka

Saturday, January 16, 2010

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah


Mengapa setiap 21 April kita memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan?

Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS-Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?
Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?
Menyongsong tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali dilontarkan sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik 'pengkultusan' R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.
Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University.